Kemendikbud Gelar Festival Literasi Sekolah 25-29 Juli 2019

Sekretaris Direktorat Jenderal Dikdasmen Dr. Sutanto, SH, MA mengatakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menggelar Festival Literasi Sekolah (FLS) 25-29 Juli 2019.JAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Sekretaris Direktorat Jenderal Dikdasmen Dr. Sutanto, SH, MA mengatakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali menggelar Festival Literasi Sekolah (FLS) 25-29 Juli 2019.

 

 

"Rencana nya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy akan Inmembuka secara resmi acara tersebut di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud pada Jumat pagi 26 Juli 2019," kata Sekretaris Dirjen Dikdasmen Sutanto dalam taklimat media di Jakarta, Kamis.

 

Menurut Sutanto, ajang tahunan yang sudah menginjak tahun ketiga pelaksanaan ini terdiri dari dua acara besar.

 

Pertama, lomba literasi. Lomba ini melibatkan 704 siswa jenjang SD, SMA, SMK dan SLB se-Indonesia. Mereka akan berlaga di 25 mata lomba, antara lain menulis cerpen, mencipts komik digital dan vokasi moda bergerak. Jika digabung dengan juri, panitia dan pendamping, partisipan lomba literasi berjumlah 1.545 orang. Pelaksanaan lomba tersebar di Jakarta, Tangerang dan Bogor.

 

Kedua, Festival Literasi. Acara ini digelar di Plaza Insan Berprestasi dan Perpustakaan Kemendikbud dalam bentuk diskusi, pelatihan, peluncuran dan bedah buku serta pemutaran film.

 

"Acara ini melibatkan 100 narasumber dari berbagai unsur," kata Sutanto.

 

Menurut dia, pemateri dan moderator dalam acara ini terdiri kalangan guru, siswa, Kepala sekolah, penggiat literasi, praktisi Pendidikan, blogger, vlogger, sastrawan, akademisi, penulis belia dan dewasa, Pekerja film, LSM, dan birokrat.

"Tahun ini tema yang diangkat adalah : 'Multiliterasi: Mengembangkan Kemandirian dan Menumbuhkan Inovasi'. Melalui tema ini diharapkan gerakan literasi yang dijalankan terutama di satuan pendidikan dapat mendorong tumbuh kembangnya kemandirian dan Inovasi warga sekolah.

"Pada era Revolusi Industri 4.0, kemandirian dan Inovasi merupakan dua komponen penting agar dapat menghadapi persaingan pada abad XXI," ujarnya. 

 

"Kegiatan berliterasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan berpikir kritis, melainkan mengarah pada keterampilan menggunakan seluruh potensi literasi melalui beragam media sesuai perubahan dan perkembangan zaman, yang dengan begitu para pelakunya dapat terlibat dan berpartisipasi dalam masyarakat," katanya. (Agus)

 

Share this post

Submit to FacebookSubmit to Twitter