Mengais Rezeki dari Banjir Yang Melanda Jakarta

JAKARTA (Jurnal): Siapa mengira bahwa dari banjir besar yang melanda Ibukota Jakarta dan sekitarnya, serta berbagai daerah di Indonesia, ternyata bisa menjadi ladang penghasilan bagi warga yang mau basah kuyup di tengah air banjir yang mencapai tinggi selutut atau bahkan sepinggang.

 

Sejumlah orang menawarkan gerobak untuk melewati daerah banjir

Ketika penulis hendak liputan ke daerah Cikini, Selasa (15/1) Jakarta Pusat dari Cipondoh Tangerang, ketika melintas di terowongan di bawah jalan tol Jakarta-Merak, backpack yang biasanya ditaruh di depan lutut, harus dipindah ke punggung. Sementara itu, sepatu harus dilepas dan diganti dengan sandal yang selalu siap di bagasi. Alhamdulillah banjir semata kaki itu bisa dilewati dengan aman.

Yang nekad menuntun motornya  melintasi genangan banjir
Yang nekad menuntun motornya melintasi genangan banjir

Perjalanan dilanjutkan menuju Ciledug. Dari Ciledug menuju Pasar Lembang, mulai ada genangan seperti tadi. Sampai di lampu merah, jalan macet. Ada kecurigaan di depan sana terjadi banjir. Penulis berbelok ke kiri menuju Jalan H. Mencong. Tidak jauh dari persimpangan dengan Ciledug Raya, kembali terjadi macet.
Lalu ambil haluan menuju Yadika yang ke arah Joglo Raya. Alamak Di jalan ini jalan macet. Agaknya terjadi banjir besar di kali Nyeburin yang ada di depan. Apa boleh buat. Maksud hati hendak menerobos genangan banjir, tapi sayang-sayang motor yang belum lunas cicilannya.
“Pak, naik gerobak saja. Di depan banjirnya dalam. Sampai sepinggang,” kata seseorang menawarkan jasa.
“Berapa bayarnya?”
“Dua puluh ribu pak.”
“Sepuluh ribu ya?”
“Gak bisa pak. Kalau mau dua puluh ribu saja.”
Dua puluh ribu masih makes sense lah. Ketimbang motor rusak.
“OK.”
Setelah lewat titik banjir itu, alhamdulilah sampai Cikini tak ada banjir yang berarti.
Setelah selesai liputan, untuk menghindari daerah Yadika-Joglo yang macet karena banjir, penulis memutar ke arah Karang Mulia, menuju Karang Tengah. Sampai Karang Mulia masih aman-aman saja. Tapi begitu sampai Perumahan Departemen Dalam Negeri dan Dep. Kehutanan banjir itu kembali menghadang.
“Dalam gak airnya di depan?”
“Wah dalam pak. Dalamnya sepinggang. Naik gerobak saja pak!”
“Berapa bayarnya?”
“Seratus ribu saja pak”
“Apa? Seratus ribu?”
“Iya pak.”
“Dua puluh ribu ya?”
“Gak bisa pak. Kalau mau tujuh puluh ribu aja.”
Waduh…
“Pak kalau gak mau. Ke pinggir saja. Supaya tidak menghalangi yang mau lewat,” kata orang itu.
Penulis menepi. Seseorang yang rupanya enggan membayar sebanyak itu, sedang membungkus knalpot motornya dengan plastik.
“Diapain tuh motornya?”
“Dibungkus knalpotnya agar tak kemasukan air pak.”
“Terus diapain?”

Banjir pun menjadi berkah bagi yang mau berusaha
Banjir pun menjadi berkah bagi yang mau berusaha

“Sebelum dibungkus lubang knalpot disumpel pakai kertas pak. Setelah disumpel, dibungkus, lalu motor dituntun menuju seberang, tapi mesin jangan dihidupkan.”
Woww boleh juga akal orang ini ditiru.
Setelah sampai pertengahan banjir, ketika penulis sudah ngos-ngosan seseorang menawarkan jasa.
“Saya dorong ya pak.”
Tanpa menunggu diiyakan, orang itu sudah mendorong motor sampai ke seberang. Ketika sumpel knalpot dibuka, ternyata motor bisa hidup. Tak pelak uang Rp 10.000 keluar dari kocek untuk orang yang menawarkan jasa mendorong motor di tengah banjir.
Kejadian serupa terjadi lagi di depan Ciledug Indah yang airnya setinggi pinggang dan sekolah Harapan Jaya.
Brrrr. Dinginnya. Berendam di tengah banjir di tengah malam… Semoga besok tidak jadi meriang nih  badan.(aGs/man)

Share this post

Submit to FacebookSubmit to Twitter