yt-banner1
yt-banner2

Koperasi dan UKM

Berbicara dalam Diskusi Forkopimda, Teten Beberkan 5 Sumber Masalah Utama UMKM. Apa saja ?

BOGOR, JURNAL IBUKOTA: Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menjadi salah satu pembicara dalam acara diskusi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) se-Indonesia di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (13/11/2019). Teten berbicara di sesi panel keenam bersama Menteri Perdagangan Agus Suparmanto.

Read more...

Konstruksi & Infrastruktur

Presiden Jokowi : Ketersediaan Infrastruktur Menjadi Pondasi Indonesia Menuju Negara Maju

JAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Pembangunan infrastruktur secara masif dan merata di seluruh pelosok Tanah Air selama 5 tahun terakhir menjadi pondasi untuk kemajuan Indonesia di masa depan. Ketersediaan infrastruktur menjadi modal Indonesia meningkat menjadi negara maju, dan tidak terperangkap sebagai negara berkembang saja atau “middle income trap”. 

Read more...

Kemenkop dan UKM Kembangkan Korporasi Petani Model Koperasi

Kementerian Koperasi dan UKM mengembangkan korporasi petani model koperasi untuk hilirisasi pertanian. Inti konsep ini adalah  koperasi petani dapat mengembangkan industrinya sendiri untuk memberikan nilai tambah bagi produksinya. JAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Kementerian Koperasi dan UKM mengembangkan korporasi petani model koperasi untuk hilirisasi pertanian. Inti konsep ini adalah  koperasi petani dapat mengembangkan industrinya sendiri untuk memberikan nilai tambah bagi produksinya. 

 

 

Dengan demikian koperasi dapat berperan sebagai buffer atau penyangga  sehingga petani terlindungi dari  permainan harga yang dapat menyebabkan kerugian bagi petani.  

 

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof. Rully Indrawan mengatakan sangat yakin koperasi petani mampu mengembangkan konsep industrialisasi dalam menjalankan  usahanya untuk kesejahteraan petani sebagai anggota koperasi. Presiden Jokowi juga memberikan arahan petani harus masuk ke industri karena di sanalah letaknya nilai tambah.

 

"Konsep dasarnya sederhana, petani melalui koperasi harus memiliki industrinya sendiri, dengan industri yang dimiliki oleh petani melalui koperasi maka koperasi akan mampu memberikan nilai tambah yang signifikan bagi produk petani. Dengan demikian koperasi akan mampu berperan menjadi buffer yang akan melindungi petani dari dampak langsung pasar bebas atau peluang kerugian usaha," kata Prof Rully Indrawan pada acara Workshop Korporasi Petani Model Koperasi untuk Hilirisasi Pertanian, di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

 

Dengan cara itu ia yakin dapat menjadikan petani sebagai penikmat terbesar dari nilai tambah yang tercipta dari proses pengolahan komoditi menjadi produk jadi atau bahan baku setengah jadi.

 

Rully menegaskan upaya mendorong petani ke arah industri sudah banyak dilakukan. Namun, keistimewaannya melalui koperasi sebagai entitas bisnis adalah kekuatan yang dapat  yang mengikat petani dan koperasi.  Itu sebabnya, korporasi petani model koperasi untuk hilirisasi pertanian adalah mendorong petani melalui koperasi   untuk melakukan investasi pada industri yang dikembangkannya. 

 

Kemenkop dan UKM telah bekerja sama dengan Agriterra dari Belanda untuk mendampingi koperasi mengimplementasikan konsep ini.  Rully berharap kerja sama ini bisa menjadi pilot project untuk mengembangkan sektor pertanian di berbagai daerah di Indonesia yang memiliki potensi sangat besar.

 

 

Mulai Dari Level Pedesaan

Di tempat yang sama, Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop dan UKM Victoria br Simanungkalit mengatakan, ini momen yang baik mengajak peran berbagai pihak untuk berkolaborasi. Ia ingin menegaskan paradigma bahwa koperasi adalah lembaga ekonomi yang berbadan hukum yang mampu mengangkat para petani untuk maju.  

 

"Kita ingin mengembangkan industrialisasi mulai dari level pedesaan," kata Vicky, demikian ia kerap disapa.

 

Ia juga berharap dengan konsep industrialisasi produk yang dihasilkan koperasi  berstandar global. Produk beras juga bukan hanya sekedar beras, jagung bukan sekedar jagung. 

 

"Kualitasnya harus global karena kita ingin menguasai pasar Indonesia yang penduduknya lebih dari 200 juta. Dengan korporasi pertanian ini produknya lebih banyak dan bisa melakukan ekspor sehingga neraca perdagangan baik.  Produk-produk yang dihasilkan mampu masuk dalam global value chain," harap Vikcy. 

 

Sebelumnya Direktur Agriterra Belanda Ces van Riij, merasa senang bisa berkolaborasi dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Ia berharap momen ini bisa menjadi langkah awal untuk berkolaborasi dan menjadi mitra di Indonesia. 

 

"Bagi saya kolaborasi adalah esensi utama dalam koperasi. Oleh karena itu dengan kita berkumpul menjadi langkah kita untuk membuat lingkungan terutama lingkungan koperasi dalam hal pengembangan pertanian supaya pertani dapat berpikir dalam mengembangkan bisnisnya," kata Ces van Riij.

 

Menurutnya, untuk membuat perekonomian yang kuat di suatu negara maka sektor agrikultur harus kuat. Ia sangat bangga menjadi seorang petani dan ayahnya juga seorang petani di Belanda. Dengan kuatnya agrikultur di Belanda maka perekonomian di Belanda saat ini sangat kuat. Begitupun jika Indonesia mengembangkan sektor agrikultur maka negara ini akan menjadi kuat. (Agus)

 

 

 

primi sui motori con e-max

Infrastruktur Pondasi Indonesia Maju

Pembangunan infrastruktur secara masif dan merata di seluruh pelosok Tanah Air selama 5 tahun terakhir menjadi pondasi untuk kemajuan Indonesia di masa depan. Ketersediaan infrastruktur menjadi modal Indonesia meningkat menjadi negara maju, dan tidak terperangkap sebagai negara berkembang saja atau “middle income trap”.

 

Pembangunan infrastruktur secara masif dan merata di seluruh pelosok Tanah Air selama 5 tahun terakhir menjadi pondasi untuk kemajuan Indonesia di masa depan. Ketersediaan infrastruktur menjadi modal Indonesia meningkat menjadi negara maju, dan tidak terperangkap sebagai negara berkembang saja atau “middle income trap”.

 

"Infrastruktur merupakan pondasi bagi Indonesia untuk mampu berkompetisi dengan negara lain. Indeks daya saing Indonesia masih berada pada posisi di tengah terhadap negara-negara lain. Kita ingin berada pada posisi yang lebih tinggi. Kemudian kita akan masuk ke agenda besar yang kedua, yaitu pembangunan sumber daya manusia dan selanjutnya baru masuk ke agenda besar inovasi dan teknologi," kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam diskusi Forum A1 bertajuk "Makmur dan Terhubung Berkat Infrastruktur" yang digelar di Jakarta, Kamis (14/11/2019).

 

 

 

 

 

 

 

Mitra

 

Untuk Pemasangan Iklan, Advertorial atau Press Release hubungi 0878-8989-9469 (SMS) atau 0878-0856-1199 (WA)http://www.jasamarga.com/


Kementerian PU dan Pera


Transportasi

ASTRA Tol Tangerang-Merak Tingkatkan Pelayanan Infrastruktur dan Transaksi

TANGERANG, JURNAL IBUKOTA: PT Marga Mandalasakti (ASTRA Tol Tangerang-Merak) berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaiknya kepada pengguna Jalan Tol Tangerang-Merak. Memasuki semester 2/2019, peningkatan pelayanan infrastruktur dan transaksi semakin digencarkan. 

Read more...

Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Libatkan Lebih dari 8.500 Mahasiswa Kelola Sampah Plastik, Sinergi Jasa Marga – UI Catat Rekor MURI

Untuk mengimbangi proses bisnis jalan tol yang memiliki citra yang bertolak belakang dengan pelestarian alam, Jasa Marga berkomitmen untuk mengangkat program-program kepedulian terhadap lingkungan dan alam sekitar.DEPOK, JURNAL IBUKOTA: Untuk mengimbangi proses bisnis jalan tol yang memiliki citra yang bertolak belakang dengan pelestarian alam, Jasa Marga berkomitmen untuk mengangkat program-program kepedulian terhadap lingkungan dan alam sekitar.

Read more...

Info Jalan Tol

Tingkatkan Pelayanan Kepada Pengguna Jalan, ATI Teken MoU dengan Para Regulator

Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) semakin menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan. Asosiasi yang terdiri dari 54 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) ini turut menandatangani nota kesepahaman/memorandum of understanding (MoU) dengan para regulator terkait.JAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI) semakin menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pelayanan kepada pengguna jalan. Asosiasi yang terdiri dari 54 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) ini turut menandatangani nota kesepahaman/memorandum of understanding (MoU) dengan para regulator terkait.

Read more...