Badan Bahasa Adakan Bedah Buku "Suara Samudera" Karya Maria Matildis Banda

 Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Prof Dadang Sunendar mengatakan bedah buku karya Maria Matildis Banda berjudul Suara Samudera: Catatan dari Lamalera menjadi salah satu kegiatan dalam menyambut Bulan Bahasa Oktober 2017.JAKARTA, JURNAL IBUKOTA: Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Prof Dadang Sunendar mengatakan bedah buku karya Maria Matildis Banda berjudul Suara Samudera: Catatan dari Lamalera menjadi salah satu kegiatan dalam menyambut Bulan Bahasa Oktober 2017.

 

"Kegiatan Bulan Bahasa baik yang diadakan di Pusat maupun 30 Provinsi di seluruh Tanah Air," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Prof Dadang Sunendar ketika membuka Bedah Buku Maria Matildis Banda berjudul Suara Samudera: Catatan dari Lamalera, di Badan Bahasa, Kemdikbud, Jakarta, Rabu (11/10/ 2017).

Menurut Dadang, Maria Matildis Banda sudah berhasil menyusun buku novel yang berguna bagi masyarakat, sastrawan, baik secara nasional maupun internasional.

"Buku novel yang bagus seperti ini akan banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, setidaknya ke dalam bahasa Inggris," ujarnya.

Dadang mengatakan penghormatan yang sama kita berikan kepada semua penulis buku yang berada di mana pun juga.

"Penyebaran literasi di Tanah Air telah dimulai dari bulan Mei, yang merupakan penghargaan kita kepada penulis," katanya.

"Ketika kita membaca, yang pertama kami lihat buku itu karangan siapa? Jangan sampai seperti kita menonton film yang bagus, yang kita puji aktornya. Kita lupa memberi penghargaan kepada sutradaranya," tambahnya.

Menurut Dadang, kalau sutradara mengatakan aktor mati lima menit kemudian, ya mati dia.

Dadang mengatakan klu melihat karya sastra dunia, banyak sekali karya sastra yang terkenal setelah 50 tahun, bahkan 100 tahun setelah pengarangnya meninggal.

"Jadi artinya sebuah karya itu menjadi sesuatu yang abadi," tambahnya.

Menurut Dadang, dia belum membaca satu lembar pun novel Suara Samudera karya Maria.

Secara intrinsik, kita harus melihat sebuah karya itu bagaimana?

"Ini akan menarik. Bagaimana pencarian sesuatu yang dianggap berharga, yang dianggap bernilai dipandang dari sudut subyeknya dan obyeknya," tuturnya.

Kemudian kajian dari pembantunya, dan peran-peran dari tokoh yang mengalami berbagai tujuan atau target dari karya ini.

"Syarat dari kerja struktural adalah kita harus membaca dengan lengkap karya ini. Kita bisa menguraikan bagaimana alur ceritanya, pengalurannya bagaimana, tokohnya bagaimana, penokohannya bagaimana dan termasuk latar yang mengalir dalam karya ini," katanya.

Dadang mengatakan kalau soal penangkapan ikan paus raksasa, sudah lama kita kenali.

"Tetapi kalau bisa datang langsung ke tempat akan menjadi sangat baik," katanya.

Dengan latar cerita itu, katanya, semua penulis dan pembaca akan tertarik untuk melihat sumbernya di balik penangkapan ikan paus itu.

Dadang mengatakan bagaimana pembaca dan penceritaan karya ini dibawa ke dalam latar atau setting cerita seperti itu.

Menurut dia, bagaimana latar cerita yang sedemikian menarik bisa dikawinkan dengan alur dan pengaluran, serta tokoh dan penokohan yang bagus.

"Ini saya yakin akan bisa menjadi menarik bagi kita semuanya," katanya. (Agus)

 

primi sui motori con e-max